Container Icon


KELAYAKAN EKONOMI USAHA BUDIDAYA 
"BEET MERAH (Beta vulgaris L) VARIETAS (Rubra L)"

Oleh:
Aulia Habsari (522017062)


Deskripsi Tanaman
a.    Klasifikasi tanaman beet merah menurut Sutanto, (2002) yaitu :
Kingdom                     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi                : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                           : Magnoliopsida (Berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                    : Hamamelidae
Ordo                            : Caryophyllales
Famili                          : Chenopodiaceae
Genus                          : Beta
Spesies                        : Beta vulgaris L

Sejarah Beet Merah
Spesies liar bit diyakini berasal dari sebagian wilayah Mediterania dan Afrika Utara dengan penyebaran kearah timur hingga wilayah barat India dan kearah barat sampai Kepulauan Kanari dan pantai barat Eropa yang meliputi Kepulauan Inggris dan Denmark. Teori yang ada sekarang menunjukkan bahwa bit segar mungkin berasal dari persilangan B vurgaris var. maritime ( bit laut) dengan B . patula. Spesies liar sekerabatnya adalah B. atriplicifolia dan B.macrocarpa.
Untuk lebih lengkapnya silahkan Baca Disini .
Buah bit merah hanya dihasilkan di beberapa daerah di Indonesia, yaitu dipegunungan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pada daerah Jawa Barat, khususnya Bandung Selatan, banyak petani yang menaman bit merah karena ini dikarenakan tingginya permintaan dari bit merah tersebut, inggin mengetahui lebih banyak soal ini, yuk Klik disini 

Hasil dan Analisis Ekonomi
Berikut tabel analisis ekonomi pada budidaya Beet Merah di Salaran :
1.    Biaya Variabel (VC)
No
Jenis
Harga
Kuantitas
Jumlah
1
Bibit Beet Merah
Rp150,-/Bibit
185 bibit
Rp27.750,-
2
Bibit Untuk Sulam
Rp2000,-/Bibit
20 buah
Rp40.000,-
3
Pupuk Kandang
Rp8000,-/Karung
2 Karung
Rp16.000,-
4
Tenaga Kerja
Rp20.000,-/Hari
17 Hari Kerja
Rp340.000,-
Total Biaya Variabel
Rp423.750,-

2.    Biaya Tetap (FC)
No
Jenis
Harga
Kuantitas
Jumlah
1
Sewa Lahan 30 M2
Rp45.000,-/Bulan
2 Bulan
Rp90.000,-
Total Biaya Tetap
Rp90.000,-

3.    Biaya Penyusutan
No
Jenis
Jumlah
Harga/Satuan
Penyusutan
1
Cangkul
1 buah
Rp80.000,-
Rp13.333,-
2
Gembor
1 buah
Rp60.000,-
Rp5.000,-
3
Ember
1 buah
Rp20.000,-
Rp3.333,-

Total Biaya


Rp21.666,-

Biaya Penyusutan = (Harga Barang : Masa ketahanan barang) x Masa Pakai
a.       Biaya Penyusutan Cangkul = (Rp80.000,- :12 bulan) x 2 bulan = Rp13.333,-
b.      Biaya Penyusutan Gembor = (Rp60.000,- : 24 bulan) x 2 bulan = Rp5.000,-
c.       Biaya Penyusutan Ember = (Rp20.000,- : 12 bulan) x 2 bulan = Rp3.333,-

4.    Analisis Ekonomi
No
Nama Analisis Ekonomi
Perhitungan Analisi Ekonomi

1

Total Biaya Produksi (Input)
= VC + FC
= (Rp423.750,-) + (Rp90.000,- + Rp21.666,-)
= (Rp535.416,-)
2
Total Panen/Jumlah Produksi
= 28Kg/160 Tanaman
4
Harga Jual (P)
= Rp37.000,-/Kg
5
Pendapatan (Output)
=  (Rp37.000,-) x (28 Kg)
=   Rp1.036.000,-
6
Keuntungan
=  Pendapatan (Output) -  Total Biaya Produksi (Input)
=  (Rp1.036.000,-) - (Rp535.416,-)
=  Rp500.584,-
7
R/C Rasio
= (Total penerimaan) / (Total Biaya)
= (Rp1.036.000,-) / (Rp535.416,-)
= 1,9  (Budidaya Tanaman Beet Merah Layak Dibudidayakan Karena > 1)

Pada penghitungan analisis ekonomi budidaya tanaman beet merah ini didapatkan bahwa jumlah (VC) sebesar Rp423.750,- , didalamnya mencakup biaya dari pengolahan lahan hingga pemanenan. Kemudian untuk (FC) sebesar Rp111.666,- , didalamnya mencakup penyewaan lahan dan biaya penyusutan alat yang digunakan selama budidaya. Lalu untuk hasil panen yang didapat pada budidaya ini yaitu sebesar 28Kg, hal ini diasumsikan bahwa berat per tanaman yaitu 175 gram. Dari hasil survey bahwa harga beet merah dipasaran pada bulan September 2018 di Semarang yaitu Rp37.000,-/Kg. Sehingga dari hasil panen ini memiliki harga jual keseluruhan sebesar Rp1.036.000,-.
Dapat dilihat dari hasil analisis ekonomi budidaya tanaman beet merah dapat dikatakan layak. Hal ini dikarenakan nilai rasio R/C menunjukkan nilai >1. Dimana nilai rasio R/C yakni 1,9 yang didapat dari hasil bagi output sebesar Rp1.036.000,- dan input sebesar Rp535.416,-.

Daftar Pustaka
https://drive.google.com/file/d/1legruTBbdETPRYtK5bMmm8Ibzg_gjtj3/view?usp=sharing
https://drive.google.com/file/d/1l4hAegK_Ub0A4t5a8l3lJGMssQtaYvA5/view?usp=sharing
Sutanto R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Permasyarakatan dan Pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Lampiran


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teknik Budidaya Sawi - Yoshua Agung D Septian - 522017057


Di Indonesia sayur merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat.Salah satu jenis sayuran yang banyak diminati oleh masyarakat adalah sawi. Sawi adalah jenis sayuran yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Salah satu kerabat dari sawi yang sering dibudidayakan oleh petani adalah sawi sendok (pakcoy).Pakcoy (Brassica rapa L.) adalah tanaman jenis sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae.Meskipun sawi dan pakcoy bergenus yang sama namun kedua jenis sayur ini memiliki perbedaan terutama pada daunnya dan juga memiliki varietas yang berbeda. Sawi memiliki struktur daun yang bersayap dan bertangkai panjang yang bentuknya pipih, sedangkan pada pakcoy memiliki struktur daun yang halus, tidak berbulu, tangkai daunnya lebih lebar, pendek, dan kompak.Salah satu contoh varietas dari sawi sendok atau pakcoyadalah Flamingo F1.Varietas Flamingo merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki permintaan pasar yang cukup besar sehingga mendorong para petani untuk membudidayakan jenis sayuran tersebut karena selain memiliki permintaan pasar yang cukup besar, jenis sayuran ini memiliki rasa yang tidak pahit dan juga membutuhkan waktu yang tidak lama dalam budidayanya.
Sayuran sangat penting dikonsumsi untuk kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan nilai gizi pada sayuran sangat tinggi karena merupakan sumber vitamin, mineral, protein nabati, dan serat. Salah satu jenis sayuran yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah pakcoy. Tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) mengandung serat, vitamin A, B, B2, B6, dan C, kalsium, fosfor, tembaga, magnesium, zat besi, dan protein. Sayuran pakcoy memiliki manfaat untuk mencegah kanker, hipertensi, dan penyakit jantung sehingga membantu kesehatan pada sistem pencernaan dan mencegah anemia bagi ibu hamil (Tania, 2012).
Sawi sendok memiliki sistem perakaran tunggang dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang melebar ke semua arah pada kedalaman 30-50cm. Akar-akar ini berfungsi menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dan menguatkan berdirinya akar tanaman.Sedangkan batang pada sawi sendok berfungsi sebagai alat penopang daun.Sawi sendok memiliki struktur daun yang halus, tidak berbulu, dan tidak membentuk krop.Daun tanaman tersusun dalam bentuk spiral yang rapat, dan melekat pada batang. Tangkai daun tanaman bewarna hijau muda, gemuk dan berdaging.Daerah yang cocok untuk pertumbuhan sawi tanaman sawi adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai 1.200 meter dpl. Daerah yang mempunyai suhu malam hari 15,60C dan siang harinya 21,10C serta penyinaran matahari antara 10-13 jam per hari (Rukmana, 1994).
Sawi sendok dapat tumbuh dengan baik apabila syarat tumbuhnya dapat terpenuhi.Sawi sendok dapat ditanama di dataran tinggi maupun didataran rendah.umumnya diusahakan di pekarangan, di lading, atau disawah. Sawi sendok merupakan termasuk tanaman sayuran yang tahan terhadap hujan.Sehingga dapat ditanama disepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiramannya (Palungkun, 1990).Syarat tanah yang ideal untuk tanaman sawi sendok adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak menggenang, tata udara dalam tanah berjalan baik, dan pH antara 6-7 (Rukmana, 1994).
Menurut Rukmana (1994), Pada pembudidayaan tanaman sawi sendok dilakukan beberapa tahapan sebagai berikut:
1.                  Penyiapan benih atau bibit
Benih yang digunakan adalah benih yang tampak bersih dan tampak bersih, warnah benih tampak terang dan tidak kusam, benih tidak terserang hama dan penyakit, benih bernas atau berisi yang dapat diketahui dengan merendam dalam air dan benih yang diambil adalah benih yang mengendap saja, dan benih tidak telalu kering. Benih sawi merupakan benih yang kecil dan halus sehingga biasanya benih sawi disebarkan atau disemaikan terlebih dahulu yang dapat dilakukan diatas bedengan atau didalam kotak persemaian.Tetapi sebaiknya dilakukan pada tempat yang dekat dengan sumber air.persemaian benih dilakukan selama ± satu bulan(berdaun 4-5 helai). Keuntungan cara menyemai ini antara lain dapt menghemat benih dan mengurangi kematian bibit muda sewaktu awal (fase) pertumbuhan maupun pada saat pindah tanam.
2.                  Persiapan lahan
Persiapan lahan dilapangan dilakukan sebelum tanaman dipindahkan dari persemaian. Sebaiknya lahan yang digunakan untuk penanaman sawi adalah tidak menggunakan lahan bekas yang semafimili untuk menekan atau memutus siklus hama dan penyakit. Mula-mula tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam kurang lebih 30cm.  Kemudian dibuat bedengan berukuran lebar 100-120cm dan panjang bedengan disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dibudidaya. Diantara bedengan dibuatkan saluran air atau tempat berpijak saat merawat tanaman selebar ±40cm. Selanjutnya tanah diberi pupuk kandang sebagai pupuk dasar.Banyaknya pupuk kandang yang diberikan tergantung dari jenis sayur yang diusahakan.Pupuk kandang atau kotoran hewan perlu diberikan karena berfungsi member makanan organik, dapat memperbaiki struktur tanah, dan dapat menahan air dalam tanah.pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk yang sudah tidak melakukan proses penguraian dan pembusukan. Kalau belum pupuk dapat menghasilkan panas.Kemudian tanah ini diistrahatkan selama 3 atau 4 hari untuk memperbaiki keadaan tata udara atau aerasi.
3.                  Penaman
Untuk penanaman sawi sendok bibit yang telah disemaikan dipindahkan ke kebun.Tiap lubang tanam ditanami satu bibit tanaman secara tegak dan dibagian pangkal dipadatkan tanahnya agar perakaran dapat kontak langsung dengan air tanah.waktu penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari sebab pada saat itu suhu udara mulai menurun dan juga menghindari penguapan air yang terlalu tinggi. Setelah selesai menanam sawi sendok maka dilakukan penyiraman terhadap tanaman yang baru ditanam.
4.                  Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman pada tanaman sawi yang pertama yaitu melakukan penyiraman.Pada fase awal pertumbuhan, perlu penyiraman sekitar 1-2 kali sehari terutama bila keadaan tanah cepat kering dan dimusim kemarau. Pemeliharaan yang kedua yakni penyiangan (pendangiran) yang dapat dilakukan dengan mencabut gulma dengan alat bantu tangan atau cangkul sambil menggemburkan tanah karena biasanya tanah menjadi padat apabila turun air hujan atau penyiraman yang berlebihan.Namun pendangiran dengan cangkul harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman.Ketiga penyulaman, yang dilakukan apabila ada tanaman yang mati.untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang serempak, sebaiknya penyulaman dilakukan seminggu setelah penanaman. Keempat yakni pemupukan susulan, apabila sawi yang berumur pendek maka dilakukan satu kali saat berumur 2 minggu setelah tanam.Cara pemberian pupuk dilakukan menurut lingkar tajuk tanaman 15-20 cm dari pangkal batang sedalam 10-15cm, kemudian pupuk tersebut ditutup tanah.
5.                  Pemanenan
Pemanenan sawi dilakukan setelah umurnya cukup dan saat pembentukan daunnya telah maksimal dan berumur antara 30-40 hari setelah tanam (hst).
Pada budidaya tanaman perlu dilakukan perlindungan terhadap tanamana tersebut salah satunya yaitu perlindungan tanaman dari gangguan hama dan penyakit. Menurut Rukmana (1994), terdapat beberapa jenis hama yang sering merusak tanaman sawi yakni:
a.                   Ulat tanah, ciri-ciri hama ini: imago aktif terbang pada senja atau malam hari, tubuhnya berwarna keabu-abuan dan sayapnya berwarna kelabu dengan tanda hitam sampai cokelat. Hama ini aktif merusak tanaman pada malam hari. Lamanya daur hidup hama ini 6-8 minggu. Hama ini menyerang hebat di musim kemarau. Gejala serangan hama ini yakni tanaman atau tangkai daun menjadi rebah karena potongan pada pangkalnya. Pengendaliannya dapat dilakukan secara non kimiawi dan kimiawi. Secara non kimiawi dengan mengumpulkan ulat tanah dan membunuhnya langsung. Cara kimiawi: menggunakan pestisida efektif dengan dosis yang sesuai dengan anjuran yang tertera pada label (kemasan).untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum panen agar keraunan pestisida pada konsumen terhindar.
b.                  Ulat plutella (Plutella xylostella L.), ciri-ciri: imangonya berupa ngengat keicil berwarna cokelat-kelabu. Lamanya siklus (daur) hidup hama ini ±21 hari, ngengatnya aktif pada senja dan malam hari. Stadium hama yang paling membahayakan adalah larva (ulat). Gejala serangan dari hama ini yakni daun berlubang-lubang kecil dan jika serangan berat tinggal tulang-tulang daunnya saja. Serangan yang berat dan hebat biasanya terjadi pada musim kemarau. Pengendalian hama ulat plutella dapat dilakukan secara kimiawi dan non-kimiawi. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan menggunakan insektisida selektif.
Selain hama, perlindungan tanaman dari gulma perlu untuk dilakukan. Gulma sebagai pengganggu adalah tumbuhan yang juga memerlukan persyaratan tumbuh. Persyaratan tumbuh gulma sama dengan tanaman budidaya yaitu memerlukan unsur hara, air, ruang tumbuh, cahaya, karbondioksida dan bahan lainnya. Gulma akan selalu berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan akan berasosiasi dengan tanaman tersebut bila tidak dilakukan penyiangan atau pengendalian. Salah satu bentuk asosiasi gulma dengan tanaman adalah terjadi kompetisi faktor tumbuh berupa unsur hara. Kompetisi terjadi bila persediaan hara yang dipersaingkan berada di bawah kebutuhan masing-masing tanaman. Pengendalian gulma secara mekanik dilakukan dengan penggunaan alat sederhana seperti koret, garpu, dan cangkul.  Penyiangan dengan menggunakan alat tradisional memerlukan  waktu  dan  tenaga  yang  cukup  besar (Saleh, 2003).
Daftar Pustaka
Saleh, N. 2003. Ekobiologi dan optimalisasi pengendalian penyakit virus belang pada kacang tanah melalui pengelolaan tanaman secara terpadu. J. Litbang Pertanaian. 22(2):41–48.

Suhartini, T. 2002. Bertanam Sawi dan Selada. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tania, N. 2012. Pengaruh pemberian pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil jagung semi pada tanah podsolik merah kuning. Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian. 1(1): 10–15.
Untung, O.2000. Hidroponik sayuran sistem NFT (Nutrient Film Tecnique). Jakarta:Penebar Swadaya.
Rukmana, R. 1994. Bertanam Petsai dan Sawi. Jakarta: Kanisius.

Lampiran

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS